Friday, January 22, 2016

Teruntuk Dia

Aku kira setelah melalui beberapa bulan ini, dia akan belajar untuk menjadi dewasa.
Tapi ternyata sama saja.
Tidak ada perubahan.
Masih sama egoisnya, masih sama kerasnya, masih sama berpikiran pendek.

Ternyata selama ini aku lelah menghadapi dia.
Dengan aku yang keras, dan dia yang keras.
Memang ini jalan terbaiknya.

Dengan adanya satu kejadian itu pun, dia tak pernah belajar.
Belajar untuk bersikap dewasa, bagaimana melihat situasi dari berbagai sisi.
Dia masih mementingkan dirinya sendiri.
Hingga saat ini.

Asal menyimpulkan sesuatu tanpa berpikir panjang.
Tanpa menyadari apa akibat yang bisa ditimbulkan.

Selama ini aku diam bukan berarti aku kalah dengan semua perdebatan dia.
Tapi aku ingin melihat seberapa sabar dia menghadapiku.
Dari situ, bisa kusimpulkan, jika dia bukan yang aku cari.
Bukan dia yang akan jadi imam keluarga kecilku kelak.

Menghadapi permasalahan kecil pun, dia masih meluap-luap emosinya.
Bagaimana nanti kelak jika dia yang akan memimpin keluarga kecilku.
Haruskah kita selalu berdebat?

Aku pikir, cukup sampai disini aku bersabar menghadapi dia.

Ya, usiaku sudah tidak muda lagi untuk berhubungan dengan lelaki yang tidak dewasa.
Aku butuh lelaki yang bisa aku jadikan sandaran, yang bisa menjadi teman, sahabat, kakak, serta suami yang bertanggung jawab.
Bukan lelaki yang tidak bisa menghormati wanita.





No comments:

Post a Comment